DARI MANDUANG UNTUK DUNIA: KETIKA POTENSI WISATA DESA MULAI BERCERITA DI MEDIA SOSIAL

Setiap desa memiliki cerita. Ada tempat-tempat indah yang mungkin belum banyak

diketahui orang, ada tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi, ada masyarakat yang ramah,

dan ada pengalaman yang tidak akan ditemukan di tempat lain. Desa Manduang pun memiliki

ceritanya sendiri. Persoalannya bukan karena Manduang tidak memiliki potensi wisata, tetapi

bagaimana potensi tersebut dapat diperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas. Di era digital

seperti sekarang, salah satu jawabannya adalah media sosial.

Atas dasar tersebut, mahasiswa KKN Universitas Pendidikan Ganesha melaksanakan

program “Digitalisasi Promosi Desa Wisata Manduang: Penyediaan Promosi Objek Wisata melalui

Media Sosial sekaligus Edukasi Pengelolaan Media Sosial.” Program ini hadir sebagai upaya untuk

mempertemukan potensi wisata Desa Manduang dengan perkembangan teknologi digital. Potensi

seperti Penglukatan Tirta Suranadi, Tukad Jinah Tubing, dan Warung Adung memiliki daya tarik

masing-masing, tetapi sebelumnya belum memiliki representasi digital yang optimal. Promosi

wisata juga masih banyak bergantung pada metode manual melalui travel agent.

Mahasiswa kemudian bekerja sama dengan Pokdarwis Desa Manduang sebagai pengelola

objek wisata. Tahapan kegiatan dimulai dari persiapan konsep, koordinasi, pengambilan gambar,

hingga proses editing. Salah satu bagian yang cukup menarik adalah proses produksi konten karena

mahasiswa tidak hanya perlu merekam objek wisata, tetapi juga memikirkan bagaimana destinasi

tersebut dapat ditampilkan secara menarik melalui video singkat yang sesuai dengan karakter

media sosial.

Pada 8 Agustus 2026, proses editing konten dilakukan dan menghasilkan enam video

promosi. Video tersebut terdiri atas video gabungan beberapa objek wisata serta video yang secara

khusus menampilkan masing-masing objek wisata. Setelah selesai, konten dipublikasikan melalui

akun Instagram resmi Pokdarwis, yaitu @tukadjinahtubing. Dengan demikian, potensi wisata Desa

Manduang mulai memiliki ruang digital yang dapat diakses oleh masyarakat secara lebih luas.Namun, mahasiswa KKN tidak ingin program berhenti pada pembuatan enam video.

Sebab, media sosial tidak akan berjalan jika hanya aktif selama mahasiswa berada di desa. Karena

itu, pada 18 Agustus 2026, dilaksanakan sosialisasi pengelolaan media sosial kepada Pokdarwis

selama 45 menit melalui metode dialog terbuka. Materi yang diberikan meliputi strategi membuat

konten, menentukan waktu unggah yang efektif, serta cara berinteraksi dengan audiens. Pokdarwis

juga menunjukkan keterlibatan aktif dan mampu merespons pertanyaan terkait materi yang

diberikan.

Program ini menjadi lebih bermakna karena pengelolaan akun media sosial selanjutnya

diserahkan kepada Pokdarwis. Dengan demikian, keberadaan mahasiswa KKN bukan menjadi

ketergantungan, melainkan menjadi pemicu agar masyarakat mulai membangun kemampuan

sendiri dalam memanfaatkan teknologi sebagai media promosi. Program ini juga menjadi ruang

bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan dari mata kuliah seperti Hukum Teknologi

Informasi dan Hukum Hak Kekayaan Intelektual (HKI), terutama dalam memperhatikan etika

publikasi dan perlindungan hak cipta dalam pembuatan konten.

Lebih jauh lagi, digitalisasi promosi bukan hanya tentang mendapatkan jumlah tayangan

atau pengikut yang banyak. Tujuan utamanya adalah membuat orang mengetahui bahwa ada

sebuah desa bernama Manduang yang memiliki pengalaman wisata yang layak untuk dikunjungi.

Sebuah video berdurasi singkat dapat menjadi pintu pertama bagi seseorang untuk mengenal

sebuah tempat. Dari satu unggahan, orang mungkin mulai penasaran. Dari rasa penasaran, muncul

keinginan untuk berkunjung. Dan dari kunjungan tersebut, roda ekonomi serta potensi desa dapat

ikut bergerak.

Manduang kini tidak hanya memiliki destinasi untuk dikunjungi, tetapi juga memiliki cerita untuk

dibagikan. Dan media sosial menjadi salah satu jembatan yang membawa cerita itu lebih jauh.



Tentang Penulis
Ni Nyoman Pradnyaniti