MENGAJARKAN PEDULI LINGKUNGAN SEJAK DINI: KETIKA 43 ANAK SD MANDUANG BELAJAR MENJADI “PAHLAWAN BUMI”

Ada banyak cara untuk menjaga lingkungan, tetapi salah satu cara paling sederhana adalah

dengan mengetahui ke mana kita harus membuang sampah. Kebiasaan kecil seperti memilah

sampah organik dan anorganik mungkin terlihat sederhana, tetapi jika dibiasakan sejak usia

sekolah, kebiasaan tersebut dapat tumbuh menjadi karakter yang melekat hingga dewasa.

Berangkat dari pemikiran tersebut, mahasiswa KKN Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha)

Desa Manduang melaksanakan program “Edukasi Bijak Sampah Sedari Dini: Peningkatan

Wawasan dan Kesadaran Perilaku Bijak Mengelola Sampah oleh Anak-Anak Sekolah Dasar” di

SD Negeri Manduang. Program ini menjadi salah satu upaya untuk memperkenalkan pengelolaan

sampah dengan cara yang lebih dekat, menyenangkan, dan mudah dipahami oleh anak-anak.

Sebelum kegiatan dilaksanakan, mahasiswa terlebih dahulu melakukan observasi dan

wawancara di SD Negeri Manduang pada 30 Juli 2026. Dari hasil pengamatan tersebut diketahui

bahwa masih terdapat siswa yang belum terbiasa menerapkan perilaku bijak dalam mengelola

sampah. Sebagian siswa masih membuang sampah tidak pada tempatnya dan belum memahami

cara membedakan sampah berdasarkan jenisnya, khususnya sampah organik dan anorganik.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah bukan hanya berkaitan dengan

ketersediaan tempat sampah, tetapi juga dengan pengetahuan dan kebiasaan masyarakat sejak dari

sumbernya. Karena itu, siswa kelas 4, 5, dan 6 yang berjumlah 43 siswa dipilih sebagai sasaran

kegiatan.

Pada 7 Agustus 2026, kegiatan edukasi akhirnya dilaksanakan. Suasana belajar dibuat

berbeda dari pembelajaran biasa. Mahasiswa tidak hanya berdiri di depan kelas untuk

menyampaikan materi, tetapi mengajak siswa untuk terlibat secara langsung. Selama kurang lebih

30 menit, siswa mendapatkan materi mengenai pengelolaan sampah, jenis-jenis sampah,

perbedaan sampah organik dan anorganik, serta pentingnya memilah sampah. Setelah itu, kegiatan

dilanjutkan dengan games implementasi bijak sampah selama 60 menit. Melalui games tersebut,

siswa diberikan kesempatan untuk mengenali, membedakan, dan memilah berbagai contoh

sampah secara langsung. Pendekatan ini membuat suasana kegiatan menjadi lebih hidup karenasiswa dapat belajar sambil bermain, berdiskusi, menjawab pertanyaan, dan mempraktikkan

pengetahuan yang baru mereka peroleh.

Menariknya, keberhasilan kegiatan tidak hanya terlihat dari suasana yang meriah, tetapi

juga dari perubahan pemahaman siswa. Setelah seluruh materi dan permainan selesai, mahasiswa

melakukan post-test secara kualitatif. Hasilnya menunjukkan bahwa siswa memiliki pemahaman

yang lebih baik mengenai jenis sampah, contoh sampah organik dan anorganik, serta cara memilah

sampah dengan tepat. Keaktifan siswa dalam menjawab pertanyaan dan keterlibatan mereka

selama games juga menunjukkan bahwa materi dapat diterima dengan baik. Dengan demikian,

edukasi yang diberikan tidak hanya membuat siswa mengetahui apa itu sampah organik dan

anorganik, tetapi mulai mendorong mereka untuk memahami bahwa setiap jenis sampah memiliki

cara pengelolaan yang berbeda.

Di akhir kegiatan, setiap siswa mendapatkan stiker bertema “Pahlawan Bumi”. Stiker

tersebut diberikan sebagai media pengingat agar kebiasaan baik yang telah dipelajari tidak berhenti

ketika kegiatan selesai. Harapannya, ketika melihat stiker tersebut, siswa kembali teringat bahwa

menjaga kebersihan bukan hanya tugas petugas kebersihan, guru, orang tua, atau pemerintah,

tetapi merupakan tanggung jawab setiap individu. Pihak sekolah juga menyatakan kesediaannya

untuk terus mengingatkan siswa mengenai pentingnya membuang dan memilah sampah dengan

benar dalam kegiatan sehari-hari.

Pada akhirnya, program ini bukan sekadar kegiatan edukasi selama beberapa jam. Lebih

jauh, kegiatan ini menjadi langkah kecil untuk menanamkan kesadaran lingkungan kepada

generasi muda Desa Manduang. Sebuah kebiasaan sederhana yang dimulai dari seorang anak dapat

terbawa ke rumah, kemudian memengaruhi keluarga, dan pada akhirnya dapat menjadi bagian dari

budaya masyarakat. Karena menjaga lingkungan tidak selalu membutuhkan tindakan besar.

Kadang-kadang, perubahan besar justru dimulai dari satu anak yang tahu harus membuang sampah

ke tempat yang tepat. Dari sana, lahirlah para “Pahlawan Bumi” kecil yang membawa harapan

untuk lingkungan yang lebih bersih di masa depan.



Tentang Penulis
Ni Nyoman Pradnyaniti