MENGAJARKAN PEDULI LINGKUNGAN SEJAK DINI: KETIKA 43 ANAK SD MANDUANG BELAJAR MENJADI “PAHLAWAN BUMI”
- Oleh Ni Nyoman Pradnyaniti
- Saturday 22/08/2026
- MANDUANG, KLUNGKUNG, Kabupaten Klungkung
Ada banyak cara untuk menjaga lingkungan, tetapi salah satu cara paling sederhana adalah
dengan mengetahui ke mana kita harus membuang sampah. Kebiasaan kecil seperti memilah
sampah organik dan anorganik mungkin terlihat sederhana, tetapi jika dibiasakan sejak usia
sekolah, kebiasaan tersebut dapat tumbuh menjadi karakter yang melekat hingga dewasa.
Berangkat dari pemikiran tersebut, mahasiswa KKN Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha)
Desa Manduang melaksanakan program “Edukasi Bijak Sampah Sedari Dini: Peningkatan
Wawasan dan Kesadaran Perilaku Bijak Mengelola Sampah oleh Anak-Anak Sekolah Dasar” di
SD Negeri Manduang. Program ini menjadi salah satu upaya untuk memperkenalkan pengelolaan
sampah dengan cara yang lebih dekat, menyenangkan, dan mudah dipahami oleh anak-anak.
Sebelum kegiatan dilaksanakan, mahasiswa terlebih dahulu melakukan observasi dan
wawancara di SD Negeri Manduang pada 30 Juli 2026. Dari hasil pengamatan tersebut diketahui
bahwa masih terdapat siswa yang belum terbiasa menerapkan perilaku bijak dalam mengelola
sampah. Sebagian siswa masih membuang sampah tidak pada tempatnya dan belum memahami
cara membedakan sampah berdasarkan jenisnya, khususnya sampah organik dan anorganik.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah bukan hanya berkaitan dengan
ketersediaan tempat sampah, tetapi juga dengan pengetahuan dan kebiasaan masyarakat sejak dari
sumbernya. Karena itu, siswa kelas 4, 5, dan 6 yang berjumlah 43 siswa dipilih sebagai sasaran
kegiatan.
Pada 7 Agustus 2026, kegiatan edukasi akhirnya dilaksanakan. Suasana belajar dibuat
berbeda dari pembelajaran biasa. Mahasiswa tidak hanya berdiri di depan kelas untuk
menyampaikan materi, tetapi mengajak siswa untuk terlibat secara langsung. Selama kurang lebih
30 menit, siswa mendapatkan materi mengenai pengelolaan sampah, jenis-jenis sampah,
perbedaan sampah organik dan anorganik, serta pentingnya memilah sampah. Setelah itu, kegiatan
dilanjutkan dengan games implementasi bijak sampah selama 60 menit. Melalui games tersebut,
siswa diberikan kesempatan untuk mengenali, membedakan, dan memilah berbagai contoh
sampah secara langsung. Pendekatan ini membuat suasana kegiatan menjadi lebih hidup karenasiswa dapat belajar sambil bermain, berdiskusi, menjawab pertanyaan, dan mempraktikkan
pengetahuan yang baru mereka peroleh.
Menariknya, keberhasilan kegiatan tidak hanya terlihat dari suasana yang meriah, tetapi
juga dari perubahan pemahaman siswa. Setelah seluruh materi dan permainan selesai, mahasiswa
melakukan post-test secara kualitatif. Hasilnya menunjukkan bahwa siswa memiliki pemahaman
yang lebih baik mengenai jenis sampah, contoh sampah organik dan anorganik, serta cara memilah
sampah dengan tepat. Keaktifan siswa dalam menjawab pertanyaan dan keterlibatan mereka
selama games juga menunjukkan bahwa materi dapat diterima dengan baik. Dengan demikian,
edukasi yang diberikan tidak hanya membuat siswa mengetahui apa itu sampah organik dan
anorganik, tetapi mulai mendorong mereka untuk memahami bahwa setiap jenis sampah memiliki
cara pengelolaan yang berbeda.
Di akhir kegiatan, setiap siswa mendapatkan stiker bertema “Pahlawan Bumi”. Stiker
tersebut diberikan sebagai media pengingat agar kebiasaan baik yang telah dipelajari tidak berhenti
ketika kegiatan selesai. Harapannya, ketika melihat stiker tersebut, siswa kembali teringat bahwa
menjaga kebersihan bukan hanya tugas petugas kebersihan, guru, orang tua, atau pemerintah,
tetapi merupakan tanggung jawab setiap individu. Pihak sekolah juga menyatakan kesediaannya
untuk terus mengingatkan siswa mengenai pentingnya membuang dan memilah sampah dengan
benar dalam kegiatan sehari-hari.
Pada akhirnya, program ini bukan sekadar kegiatan edukasi selama beberapa jam. Lebih
jauh, kegiatan ini menjadi langkah kecil untuk menanamkan kesadaran lingkungan kepada
generasi muda Desa Manduang. Sebuah kebiasaan sederhana yang dimulai dari seorang anak dapat
terbawa ke rumah, kemudian memengaruhi keluarga, dan pada akhirnya dapat menjadi bagian dari
budaya masyarakat. Karena menjaga lingkungan tidak selalu membutuhkan tindakan besar.
Kadang-kadang, perubahan besar justru dimulai dari satu anak yang tahu harus membuang sampah
ke tempat yang tepat. Dari sana, lahirlah para “Pahlawan Bumi” kecil yang membawa harapan
untuk lingkungan yang lebih bersih di masa depan.