MENJAGA KEINDAHAN MANDUANG DARI HAL SEDERHANA: GERAKAN TEMPAT SAMPAH TERPILAH DI KAWASAN WISATA
- Oleh Ni Nyoman Pradnyaniti
- Saturday 22/08/2026
- MANDUANG, KLUNGKUNG, Kabupaten Klungkung
Apa yang pertama kali terlintas ketika mendengar kata wisata? Pemandangan yang indah,
udara yang nyaman, pengalaman baru, atau mungkin foto-foto yang ingin diabadikan. Namun, ada
satu hal yang sering kali menentukan apakah pengalaman wisata benar-benar menyenangkan atau
tidak, yaitu kebersihan. Sebuah tempat wisata yang memiliki pemandangan luar biasa akan
kehilangan sebagian daya tariknya apabila dipenuhi sampah. Kesadaran inilah yang menjadi salah
satu alasan mahasiswa KKN Universitas Pendidikan Ganesha menghadirkan program “Desa
Wisata Manduang Bijak Sampah: Penyediaan Fasilitas Sampah Terpilah pada Objek Wisata Desa
Manduang.”
Desa Manduang memiliki potensi wisata yang menarik, di antaranya Tukad Suranadi dan
Tukad Jinah Tubing. Kedua objek tersebut menjadi tempat yang dikunjungi oleh wisatawan
maupun masyarakat sekitar. Aktivitas pengunjung tentu berpotensi menghasilkan sampah,
khususnya sampah anorganik seperti botol minuman dan kemasan plastik. Berdasarkan hasil
observasi, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena Desa Manduang sedang berupaya
mengembangkan dan mengukuhkan dirinya sebagai desa wisata. Kebersihan kawasan menjadi
bagian penting dalam menciptakan kenyamanan pengunjung sekaligus menjaga citra destinasi
wisata.
Dari kondisi tersebut, mahasiswa KKN kemudian merancang program penyediaan tempat
sampah terpilah. Program ini tidak hanya bertujuan menyediakan fasilitas untuk membuang
sampah, tetapi juga mendorong masyarakat dan wisatawan agar mulai memilah sampah sejak dari
sumbernya. Tempat sampah organik dan anorganik disiapkan dengan label yang mudah dipahami
sehingga pengunjung dapat mengetahui tempat yang sesuai untuk membuang sampah mereka.
Dengan adanya fasilitas tersebut, diharapkan pengelolaan sampah di kawasan wisata menjadi lebih
tertata dan tidak seluruhnya menjadi beban pengelola.
Hal menarik dari program ini adalah proses pembuatannya yang memanfaatkan barang
bekas. Tempat sampah dibuat secara swadaya menggunakan galon air mineral bekas yang dilapisi
kawat kasa. Pemanfaatan bahan tersebut sekaligus menjadi penerapan prinsip reduce, reuse,recycle (3R). Dengan kata lain, program ini tidak hanya mengajak orang membuang sampah pada
tempatnya, tetapi juga memberikan contoh bahwa barang yang dianggap tidak terpakai masih
dapat diubah menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna.
Fasilitas tersebut kemudian ditempatkan di Tukad Suranadi dan Tukad Jinah Tubing,
masing-masing dengan satu tempat sampah organik dan satu tempat sampah anorganik. Kehadiran
tempat sampah terpilah tersebut memberikan perubahan yang sederhana tetapi nyata. Pengunjung
dapat membuang sampah sesuai jenisnya, sementara pihak Pokdarwis menjadi lebih terbantu
karena sampah tidak lagi harus dipilah secara manual setiap hari.
Keberlanjutan menjadi bagian penting dalam program ini. Mahasiswa tidak hanya
meninggalkan fasilitas, tetapi juga memberikan sosialisasi kepada pengelola mengenai cara
pembuatan dan perawatan tempat sampah daur ulang. Dengan demikian, Pokdarwis memiliki
kesempatan untuk merawat fasilitas yang telah ada sekaligus mengembangkannya secara mandiri
di kemudian hari.
Pada akhirnya, program ini mengajarkan bahwa menjaga destinasi wisata tidak selalu harus
dilakukan melalui pembangunan besar atau fasilitas mahal. Sebuah tempat sampah sederhana pun
dapat memiliki arti ketika mampu mengubah kebiasaan pengunjung. Wisata yang indah
membutuhkan lingkungan yang bersih, dan lingkungan yang bersih membutuhkan kesadaran
bersama. Dari Manduang, langkah kecil itu dimulai: menikmati wisata sekaligus belajar untuk
menjaganya.