MENJAGA KEINDAHAN MANDUANG DARI HAL SEDERHANA: GERAKAN TEMPAT SAMPAH TERPILAH DI KAWASAN WISATA

Apa yang pertama kali terlintas ketika mendengar kata wisata? Pemandangan yang indah,

udara yang nyaman, pengalaman baru, atau mungkin foto-foto yang ingin diabadikan. Namun, ada

satu hal yang sering kali menentukan apakah pengalaman wisata benar-benar menyenangkan atau

tidak, yaitu kebersihan. Sebuah tempat wisata yang memiliki pemandangan luar biasa akan

kehilangan sebagian daya tariknya apabila dipenuhi sampah. Kesadaran inilah yang menjadi salah

satu alasan mahasiswa KKN Universitas Pendidikan Ganesha menghadirkan program “Desa

Wisata Manduang Bijak Sampah: Penyediaan Fasilitas Sampah Terpilah pada Objek Wisata Desa

Manduang.”

Desa Manduang memiliki potensi wisata yang menarik, di antaranya Tukad Suranadi dan

Tukad Jinah Tubing. Kedua objek tersebut menjadi tempat yang dikunjungi oleh wisatawan

maupun masyarakat sekitar. Aktivitas pengunjung tentu berpotensi menghasilkan sampah,

khususnya sampah anorganik seperti botol minuman dan kemasan plastik. Berdasarkan hasil

observasi, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena Desa Manduang sedang berupaya

mengembangkan dan mengukuhkan dirinya sebagai desa wisata. Kebersihan kawasan menjadi

bagian penting dalam menciptakan kenyamanan pengunjung sekaligus menjaga citra destinasi

wisata.

Dari kondisi tersebut, mahasiswa KKN kemudian merancang program penyediaan tempat

sampah terpilah. Program ini tidak hanya bertujuan menyediakan fasilitas untuk membuang

sampah, tetapi juga mendorong masyarakat dan wisatawan agar mulai memilah sampah sejak dari

sumbernya. Tempat sampah organik dan anorganik disiapkan dengan label yang mudah dipahami

sehingga pengunjung dapat mengetahui tempat yang sesuai untuk membuang sampah mereka.

Dengan adanya fasilitas tersebut, diharapkan pengelolaan sampah di kawasan wisata menjadi lebih

tertata dan tidak seluruhnya menjadi beban pengelola.

Hal menarik dari program ini adalah proses pembuatannya yang memanfaatkan barang

bekas. Tempat sampah dibuat secara swadaya menggunakan galon air mineral bekas yang dilapisi

kawat kasa. Pemanfaatan bahan tersebut sekaligus menjadi penerapan prinsip reduce, reuse,recycle (3R). Dengan kata lain, program ini tidak hanya mengajak orang membuang sampah pada

tempatnya, tetapi juga memberikan contoh bahwa barang yang dianggap tidak terpakai masih

dapat diubah menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna.

Fasilitas tersebut kemudian ditempatkan di Tukad Suranadi dan Tukad Jinah Tubing,

masing-masing dengan satu tempat sampah organik dan satu tempat sampah anorganik. Kehadiran

tempat sampah terpilah tersebut memberikan perubahan yang sederhana tetapi nyata. Pengunjung

dapat membuang sampah sesuai jenisnya, sementara pihak Pokdarwis menjadi lebih terbantu

karena sampah tidak lagi harus dipilah secara manual setiap hari.

Keberlanjutan menjadi bagian penting dalam program ini. Mahasiswa tidak hanya

meninggalkan fasilitas, tetapi juga memberikan sosialisasi kepada pengelola mengenai cara

pembuatan dan perawatan tempat sampah daur ulang. Dengan demikian, Pokdarwis memiliki

kesempatan untuk merawat fasilitas yang telah ada sekaligus mengembangkannya secara mandiri

di kemudian hari.

Pada akhirnya, program ini mengajarkan bahwa menjaga destinasi wisata tidak selalu harus

dilakukan melalui pembangunan besar atau fasilitas mahal. Sebuah tempat sampah sederhana pun

dapat memiliki arti ketika mampu mengubah kebiasaan pengunjung. Wisata yang indah

membutuhkan lingkungan yang bersih, dan lingkungan yang bersih membutuhkan kesadaran

bersama. Dari Manduang, langkah kecil itu dimulai: menikmati wisata sekaligus belajar untuk

menjaganya.

Tentang Penulis
Ni Nyoman Pradnyaniti