SATU KELUARGA SATU SARJANA: KETIKA INFORMASI PENDIDIKAN MENJADI HARAPAN BARU BAGI KELUARGA DI MANDUANG

Pendidikan tinggi sering kali menjadi salah satu jalan untuk membuka kesempatan yang

lebih luas di masa depan. Namun, tidak semua keluarga memiliki akses informasi yang sama

mengenai kesempatan pendidikan yang tersedia. Terkadang, bukan karena tidak ada keinginan

untuk melanjutkan pendidikan, tetapi karena informasi mengenai program, persyaratan, dokumen,

dan mekanisme pendaftaran belum sepenuhnya dipahami. Kondisi tersebut menjadi salah satualasan mahasiswa KKN Universitas Pendidikan Ganesha melaksanakan sosialisasi Program Satu

Keluarga Satu Sarjana (SKSS) kepada keluarga asuh di Desa Manduang.

Sebelumnya, masyarakat Desa Manduang telah mengetahui keberadaan Program SKSS

karena sosialisasi mengenai program tersebut sudah pernah dilakukan di desa. Namun,

berdasarkan hasil pendampingan, pemahaman keluarga masih berada pada tingkat umum. Mereka

belum sepenuhnya mengetahui informasi yang lebih rinci, terutama mengenai manfaat program,

persyaratan, kelengkapan dokumen, dan mekanisme pendaftaran. Kondisi inilah yang kemudian

menjadi dasar bagi mahasiswa untuk memberikan pendampingan secara lebih personal kepada

keluarga asuh.

Program dilaksanakan kepada 7 keluarga asuh terpilih. Pendekatan yang digunakan

berbeda dengan sosialisasi umum di tingkat desa. Mahasiswa datang dan berkomunikasi langsung

dengan keluarga asuh masing-masing. Pendekatan tersebut memungkinkan mahasiswa

menyesuaikan penjelasan dengan kondisi keluarga, sekaligus memberikan ruang yang lebih luas

bagi keluarga untuk bertanya mengenai hal-hal yang belum mereka pahami.

Pada 2 Agustus 2026, kegiatan sosialisasi utama dilaksanakan selama kurang lebih 60

menit, kemudian dilanjutkan dengan diskusi selama 30 menit. Materi yang disampaikan meliputi

pengertian dan tujuan SKSS, manfaat program, persyaratan umum, kelengkapan berkas, serta

gambaran mekanisme pendaftaran. Penyampaian dilakukan melalui percakapan dan diskusi ringan

agar informasi yang cukup teknis dapat diterima dengan lebih mudah oleh keluarga. \

Menariknya, tidak semua keluarga asuh memiliki anggota keluarga yang pada saat itu

secara langsung memenuhi sasaran calon mahasiswa baru. Namun, hal tersebut tidak membuat

informasi menjadi sia-sia. Informasi mengenai SKSS tetap memiliki nilai karena keluarga dapat

meneruskannya kepada anak, cucu, kerabat, atau anggota keluarga lain yang nantinya memenuhi

persyaratan. Dengan demikian, satu kali sosialisasi dapat memiliki jangkauan manfaat yang lebih

luas daripada sekadar anggota keluarga yang hadir dalam kegiatan.

Setelah sosialisasi, mahasiswa melakukan monitoring melalui diskusi lanjutan. Monitoring

tidak dilakukan dengan mengulang seluruh materi dari awal, tetapi digunakan untuk mengetahui

sejauh mana keluarga memahami informasi yang telah diberikan dan memberikan kesempatanuntuk mengonfirmasi hal-hal yang masih belum jelas. Hasil pelaksanaan menunjukkan adanya

peningkatan pemahaman keluarga mengenai informasi rinci Program SKSS.

Hal yang membuat program ini begitu bermakna adalah karena SKSS tidak hanya

berbicara tentang sebuah program pendidikan. Di balik informasi mengenai persyaratan dan

dokumen, terdapat kemungkinan masa depan seorang anak. Ada keluarga yang mungkin

sebelumnya hanya mengetahui bahwa “ada program bantuan pendidikan”, kemudian setelah

mendapatkan penjelasan menjadi mengetahui apa yang harus dipersiapkan dan bagaimana langkah

yang perlu ditempuh apabila ada anggota keluarga yang memenuhi persyaratan.

Keberlanjutan program pun tidak lagi bergantung pada keberadaan mahasiswa KKN.

Setelah memperoleh informasi, keluarga diharapkan dapat menyimpan dan memanfaatkannya

apabila terdapat anggota keluarga yang memenuhi persyaratan serta memiliki keinginan untuk

mengikuti program SKSS.

Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang mendapatkan gelar sarjana. Pendidikan

adalah tentang membuka kesempatan, meningkatkan kemampuan, dan memberikan pilihan yang

lebih luas bagi seseorang untuk menentukan masa depannya. Karena itu, sebuah informasi yang

disampaikan dari rumah ke rumah mungkin terlihat sederhana, tetapi dapat menjadi awal dari

perjalanan yang sangat panjang.

Satu keluarga mungkin hanya membutuhkan satu informasi untuk membuka satu

kesempatan. Dan dari satu kesempatan itu, bisa lahir satu sarjana yang kelak membawa perubahan

bagi keluarganya.


Satu Keluarga, Satu Sarjana, Satu Harapan untuk Masa Depan.




Tentang Penulis
Ni Nyoman Pradnyaniti